Candle of Life

Yuka··5 min read

"From Struggle to Strength"

When I was small, we moved from house to house many times because we couldn't afford to buy land to build on. Life isn't easy when you start to become aware that the social world measures everything by material wealth. Borrowing land from close family meant we could only build impermanent homes - I grew up very familiar with bamboo, thatch, and a few wooden beams that held our life together for years. Electricity and running water were things we simply didn't have.

Nights darker than other people's nights. Walls colder than other people's walls. Dry earth floors. I grew into a person who accepted her circumstances - and whose dreams felt like things she had no right to have. My company while doing homework was a candle made from kerosene, a used glass bottle, a strip of simple cloth as the wick. The flame would flicker whenever wind pushed through the gaps in our bamboo walls. Until I fell deeply asleep from exhaustion.

Every morning I also had a job: collecting water from the nearest source. If several sources had dried up I'd walk much further - then carry 20 liters home on my head, and do it five or six times each morning and evening. Did I want to do it? Of course not - I was ashamed. But I had no choice, until eventually I got so used to the shame that it stopped feeling like shame.

Now, grown up, when I come back to those memories, I think: if the world stopped working the way it does - the electricity goes out, the government water supply fails - what would life look like? And then I remember my childhood, and the worry disappears. I know how to live without electricity. I know what it feels like to have no water source. Nature provides what we need - trees to build shelter and protect us from heat and rain, oil for light and warmth, water to be found if you know where to look. Knowing how to grow things will be what saves us.

The childhood I used to feel ashamed of - in the life ahead, it will be what rescues me. What society called poverty will become the most valuable life skill I have. I can see that now. I can look back on those years with pride, knowing I lived them and learned from them.

Nothing in our lives is ever wasted. It might feel useless now. But someday it might be exactly what saves you.


"Dari Perjuangan Menjadi Kekuatan."

Ketika aku masih kecil, kami sering berpindah dari satu rumah ke rumah lain karena tidak mampu membeli tanah untuk membangun. Hidup tidak mudah ketika kamu mulai menyadari bahwa dunia sosial mengukur segalanya dengan kekayaan materi. Meminjam tanah dari keluarga dekat berarti kami hanya bisa membangun rumah yang tidak permanen — aku tumbuh besar sangat akrab dengan bambu, atap ilalang, dan beberapa balok kayu yang menopang kehidupan kami selama bertahun-tahun. Listrik dan air bersih adalah hal-hal yang memang tidak kami miliki.

Malam-malam yang lebih gelap dari malam orang lain. Dinding-dinding yang lebih dingin dari dinding orang lain. Lantai tanah yang kering. Aku tumbuh menjadi seseorang yang menerima keadaannya — dan yang mimpi-mimpinya terasa seperti sesuatu yang tidak berhak ia miliki. Teman belajarku mengerjakan PR adalah lilin yang terbuat dari minyak tanah, botol kaca bekas, dan selembar kain sederhana sebagai sumbunya. Api itu akan berkedip-kedip setiap kali angin menerobos celah-celah dinding bambu kami. Hingga aku tertidur lelap karena kelelahan.

Setiap pagi aku juga punya tugas: mengambil air dari sumber terdekat. Jika beberapa sumber sudah mengering, aku harus berjalan jauh lebih jauh — lalu membawa 20 liter air pulang di atas kepalaku, dan melakukannya lima atau enam kali setiap pagi dan sore. Apakah aku ingin melakukannya? Tentu tidak — aku malu. Tapi aku tidak punya pilihan, hingga akhirnya aku begitu terbiasa dengan rasa malu itu sampai ia tidak lagi terasa seperti rasa malu.

Kini, sudah dewasa, ketika aku kembali pada kenangan-kenangan itu, aku berpikir: bagaimana jika dunia berhenti bekerja seperti biasanya — listrik padam, pasokan air pemerintah gagal — seperti apa kehidupan itu? Dan kemudian aku teringat masa kecilku, dan kekhawatiran itu pun hilang. Aku tahu cara hidup tanpa listrik. Aku tahu rasanya tidak memiliki sumber air. Alam menyediakan apa yang kita butuhkan — pohon untuk membangun tempat berlindung dan melindungi kita dari panas dan hujan, minyak untuk cahaya dan kehangatan, air yang bisa ditemukan jika kamu tahu di mana mencarinya. Mengetahui cara menumbuhkan sesuatu adalah yang akan menyelamatkan kita.

Masa kecil yang dulu membuatku malu — dalam kehidupan yang akan datang, itulah yang akan menyelamatkanku. Apa yang disebut masyarakat sebagai kemiskinan akan menjadi keterampilan hidup paling berharga yang kumiliki. Kini aku bisa melihat itu. Aku bisa menoleh ke belakang pada tahun-tahun itu dengan bangga, mengetahui bahwa aku telah menjalaninya dan belajar darinya.

Tidak ada hal dalam hidup kita yang pernah terbuang sia-sia. Mungkin rasanya tidak berguna sekarang. Tapi suatu hari nanti, mungkin itulah tepatnya yang akan menyelamatkanmu.

Experience It Yourself

Join us in the food forest.

Plan a Private Food Forest Day